Berita dan Tips Terbaru

Tiga Bulan, Facebook Tutup 583 Juta Akun Palsu

0

Lebih lanjut, Vice President of Data Analytics Facebook, Alex Schultz, mengatakan jumlah konten yang ditinjau untuk kekerasan grafis mengalami peningkatan.

Hipotesis untuk peningkatan ini, kata Schultz, disebabkan kerap kali ketika sesuatu yang buruk terjadi di dunia nyata juga masuk ke dalam Facebook.

“Di kuartal terakhir, terjadi beberapa hal buruk di Suriah. Sering kali ketika hal buruk terjadi di dunia, banyak di antaranya ada di Facebook,” jelasnya.

Beberapa kategori konten lain yang melanggar pedoman moderasi Facebook, yakni gambar eksploitasi seksual anak, revenge porn yakni distribusi gambar atau video seksual seseorang tanpa sepengetahuan mereka, kekerasan, unggahan konten bunuh diri, pelecehan, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, tidak dimasukkan dalam Community Standards Enforcement Report ini.

Mengenai gambar eksploitasi anak, kata Schultz, Facebook masih harus membuat keputusan tentang bagaimana mengkategorikan berbagai tingkatan konten, misalnya untuk gambar kartun eksploitasi anak.

“Kami lebih fokus dalam hal melindungi anak-anak daripada mencari tahu secara pasti kategorisasi apa yang akan kami rilis untuk laporan eksternal,” tutur Schultz.

Facebook sejauh ini dinilai berusaha meningkatkan transparansi layanannya. Pada April 2018, raksasa media sosial ini merilis versi publik pedomannya tentang apa yang boleh dan tidak diizinkan di layanannya.

Selain itu, Facebook juga mengumumkan langkah-langkah yang mengharuskan pengiklan politik untuk menjalani proses otentikasi dan mengungkapkan afiliasi bersamaan dengan iklan mereka.

Facebook bukan platform pertama yang berusaha meningkatkan tranparasinya. YouTube pada bulan lalu mengungkapkan telah menghapus 8,3 juta video, yang melanggar pedoman komunitasnya antara Oktober dan Desember 2018.

Berita Selengkapnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.