Berita dan Tips Terbaru

Ekonom: Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS Tak Separah pada 2013

0

Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan tidak berlangsung lama. Setidaknya, sebelum enam bulan, rupiah diprediksi sudah kembali normal.

Poltak mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi pada tahun ini tidak separah saat 2013. Pada saat itu, ada muncul istilah taper tantrum, yaitu efek yang ditimbulkan oleh rencana Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunganya, meski tidak kunjung dilakukan. Namun, akibat adanya rencana tersebut, langsung memukul mata uang negara lain, termasuk rupiah.

‎”Pada tahun 2013, itu yang disebut taper tantrum. AS sengaja membikin tingkat suku bunganya rendah supaya tingkat bunganya tumbuh. Karena saat itu pasca Lehman Brother, perlu penyembuhan dengan stimulus. Saat itu The Fed cuma bilang ada rencana akan memikirkan untuk menaikkan suku bunga. Itu langsung orang shock, ada negara yang melemah mata uangnya,” ujar dia.

Saat itu, rupiah melemah cukup tajam, yaitu berkisar antara 12 persen hingga 20 persen, atau dari 9.000-an menjadi 12.000 per dolar AS.

“Ini kalau dibandingkan dulu, pelemahannya 20 persen, itu jauh lebih melemah. Dari dolar Rp 9.000, kemudian naik tajam. Ini perlu kita perhatikan,” kata dia.

Jika melihat besaran persentase pelemahan serta kenaikan suku bunga yang telah dilakukan oleh AS, maka harusnya pelemahan saat ini tidak akan berlangsung lama seperti yang terjadi di 2013.

“Di 2018, juga sama (akibat kenaikan suku bunga AS). Sekarang sudah naik dan masih akan dinaikkan. Volatilitas saat 2013, saat taper tantrum itu, memakan waktu 6 bulan. Sekarang kita sudah mengalami 3 bulan, seharusnya tidak akan sejauh yang dulu (2013),” kata dia.

 

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD) terus merosot beberapa waktu belakangan. Bahkan pada perdagangan Senin kemarin (7/5), rupiah sempat tembus sekitar Rp 14.003 per USD.

Berita Selengkapnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.